<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-8653220825386911259</id><updated>2011-07-09T01:42:29.936+07:00</updated><title type='text'>Muda Cendekia</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://mudacendekia.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8653220825386911259/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mudacendekia.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>muda.cendekia</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05721851366735628642</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='21' src='http://2.bp.blogspot.com/_t7g-TRyk8Gs/SjXceZgl5CI/AAAAAAAAADo/ig0udnJhDeQ/S220/LOGO+MC3.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>6</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8653220825386911259.post-2360115888886252121</id><published>2010-01-12T16:54:00.002+07:00</published><updated>2010-01-12T17:02:59.957+07:00</updated><title type='text'>Testimoni</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_t7g-TRyk8Gs/S0xItHcwFHI/AAAAAAAAAEk/dufKo_QB4vI/s1600-h/COVER+BUKU+.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 230px; height: 320px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_t7g-TRyk8Gs/S0xItHcwFHI/AAAAAAAAAEk/dufKo_QB4vI/s320/COVER+BUKU+.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5425791591005557874" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Ada kalanya para penyeru kebenaran harus menjadi kepompong; berkarya dalam&lt;br /&gt;diam, bertahan dalam kesempitan. Tetapi bila tiba saatnya menjadi kupu-kupu, tak ada&lt;br /&gt;pilihan kecuali terbang, melantun kebaikan di antara bunga, menebar keindahan pada&lt;br /&gt;dunia. Buku ini berhasil mengantar kita memahami hakikat itu, dengan paparan yang&lt;br /&gt;memikat!”&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;Salim A. Fillah,&lt;br /&gt;penikmat jalan dakwah,&lt;br /&gt;penulis buku ‘Jalan Cinta Para Pejuang’&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Sebuah refl eksi kritis yang bermakna. Memotivasi dan menguatkan kita, terutama&lt;br /&gt;kalangan Muslim terpelajar, untuk tetap senantiasa istiqamah di jalan lurus dakwah&lt;br /&gt;dan tarbiyah. Namun –ini yang penting digarisbawahi- bahwa dakwah tidaklah statis. Ia&lt;br /&gt;mestilah bergerak dinamis.&lt;br /&gt;Metamorfosa dakwah, bak sunnatullah, senantiasa dikelilingi kehadiran dan kelahiran&lt;br /&gt;para pejuang muda, termasuk kehadiran buku ini dan penulisnya. Penulis mengajak&lt;br /&gt;kita senantiasa siap mendorong perjalanan sejarah agar bergerak menuju puncaknya.&lt;br /&gt;Ia berupaya mengobarkan semangat pembaruan dalam rangka mengagungkan-Nya.&lt;br /&gt;Sebuah tugas mulia yang menunggu kita semua”.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;Syafarudin, M.A.,&lt;br /&gt;Ketua Umum Himpunan Mahasiswa Pascasarjana&lt;br /&gt;Universitas Gadjah Mada&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;“Buku ini memotivasi para da’i Muslim untuk mempersiapkan segala potensi kekuatan&lt;br /&gt;menuju kebenaran secara optimal, agar memudahkan mereka merealisasikan sunnah&lt;br /&gt;al-ishlah wa at-taghyir (reformasi dan perubahan) di tengah masyarakat dalam rangka&lt;br /&gt;dakwah Ilallah. Karya ini lahir sebagai hasil pemahaman dakwah yang universal, komprehensif&lt;br /&gt;dan integral dari akh Andree”.&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;J Ardan Mardan, Lc, M.A.,&lt;br /&gt;alumnus al-Azhar University Cairo,&lt;br /&gt;kandidat doktor syari’ah University Malaya Kuala Lumpur&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;”Buku ini membuka cakrawala berpikir kita lebih terbuka dengan tanpa meninggalkan&lt;br /&gt;ashalah (keaslian). Ditulis renyah dalam format integrasi antara pesan normatif dakwah&lt;br /&gt;Islam dengan realitas kehidupan aktual yang dinamis menjadikan buku ini lebih inspiratif&lt;br /&gt;dan padat gagasan. Dilengkapi dengan data yang akurat tapi dikemas dalam sudut&lt;br /&gt;pandang yang kreatif, kontemplatif, dan progresif. Buku ini merupakan gagasan yang&lt;br /&gt;revolusioner, kuat dalam turats, aktual dalam pesan, serta kokoh dalam pijakan ilmiah.”&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;Rijalul Imam, M.Si,&lt;br /&gt;Ketua Umum KAMMI Pusat, Penulis buku ”Menyiapkan Momentum”&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8653220825386911259-2360115888886252121?l=mudacendekia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mudacendekia.blogspot.com/feeds/2360115888886252121/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8653220825386911259&amp;postID=2360115888886252121' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8653220825386911259/posts/default/2360115888886252121'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8653220825386911259/posts/default/2360115888886252121'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mudacendekia.blogspot.com/2010/01/testimoni.html' title='Testimoni'/><author><name>muda.cendekia</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05721851366735628642</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='21' src='http://2.bp.blogspot.com/_t7g-TRyk8Gs/SjXceZgl5CI/AAAAAAAAADo/ig0udnJhDeQ/S220/LOGO+MC3.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_t7g-TRyk8Gs/S0xItHcwFHI/AAAAAAAAAEk/dufKo_QB4vI/s72-c/COVER+BUKU+.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8653220825386911259.post-3421629651766092327</id><published>2009-10-15T14:38:00.004+07:00</published><updated>2009-10-15T14:41:53.555+07:00</updated><title type='text'>Catatan Agus Muldya Natakusumah: Fokus Mengurangi Kemiskinan bukan semata kepentingan Per Ekonomian.</title><content type='html'>26 September 2009 jam 6:52  Fokus Mengurangi Kemiskinan bukan semata kepentingan Per Ekonomian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I. Minal Aidzin Wal Faidzin mohon maaf lahir dan batin&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada 1 syawal 1430 ini , sebelumnya diawali dengan berpuasa selama 29 hari dan membayar zakat fitrah serta diutamakan memberikan infak dan sodakoh. Pada hari rayanya apakah yang pertama dan kedua dibanyak tempat ada open house dimana yang diutamakan selain silaturahmi adalah berbagi kebahagiaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama dua hari itu dimana mana terjadi usaha yang nyata adalah saling membahagiakan dan membuat kegembiraan, apakah dengan saling bermaafan, bersilaturahmi dan berbagi atau dengan bersilaturahmi dan saling memaaflan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah 29 hari berpuasa dan saling bermaafan serta meminta ampun kepada Allah SWT dan membayae zalat bagi yang mampu dan saling memaafkan dikatakan bahwa kita kembali kepada Fitri lagi. Kita menjadi suci lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama sebulan penuh mayoritas umat yang beragama Islam menahan diri dari dosa dan amarah serta menjauhi semua larangan yang di gariskan Allah swt bahkan berlomba lomba menbuat kebaikan. Oleh karenanya layak dikatakan bahwa bulan Ramadhan ini adalah bulan penuh rahmat, pertanyaannya apakah bulan penuh rahmat ini akan berakhir seiring dengan berakhirnya bulan ramadhan?.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada bulan bulan lainnya apakah semua itu dilupakan dan ketika menjalankan kehidupannya hanya berusaha mendapatkan semua yang harus didapatkan dan menabrak semua aturan baik secara hukum dengan mengakalinya serta aturan moral dengan mebukusnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernyataan ini ada baiknya dikaji lebih seksama dengan mengingat bahwa seharusnya pertumbuhan perekonomian juga sekaligus menumbuhkan keadilan dan pengabdian kepada kemanusiaan. Berpuluh tahun pertumbuhan ekonomi terjadi dan jutaan pebisnis tumbuh tetapi berapa persen pertumbuhan keadilan dan pengabdian kepada kemanusiaan dan usaha perbaikan alam semesta dapat terjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada titik ini kelihatannya sebaiknya kita berintrospeksi bahwa pertumbuhan ekonomi dan pendidikan yang terjadi belum signifikan menumbuhkan keadilan dan pengabdian kepada amanah kebaikan dimuka bumi ini. Semua kejahatan besar termasuk korupsi, penyalahgunaan kewenangan dalam pemerintahan, perusahaan, politik dan keagamaan semuanya merusak kehidupan kemanusiaan kita semua , yang bahayanya sama dengan narkotika, sex bebas dan kejahatan lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada hari raya idul fitri ini ada baiknya kita tidak melepas kebaikan yang telah dilakukan, menahan nafsu dan berusaha terus berbuat baik dengan sekuat tenaga sehingga keadilan dan pengabdian kepada amanah berbuat baik semakin meingkat. Disisi lainnya pertumbuhan ekonomi tidak menghasilkan kejahatan dan kerusakan bagi kemanusiaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika saja kita berhasil mempertahankan kebaikan walaupun terbatas tingkat pertumbuhan perekonomian yang tercapai, apakah kondisinya akan membaik juga kejahatan menurun, keadilan dan pengabdian meningkat. Bagaimana jika pertumbuhan ekonomi meningkat tetapi kejahatan meningkat dan pengabdian kepada kemanusiaan menurun sekaligus keadilan menurun?. Bagaimana jika pertumbuhan ekonomi menurun, kejahatan meningkat, pengabdian kepada kemanusiaan menurun dan keadilan menurun ?.......hasilnya pasti semakin parah. Pasti. Dan kondisi ini tidak boleh terjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;II. Sudah nyata kemiskinan itu berbahaya bagi negara dan bangsa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang miskin itu dibiarkan saja mereka akan membuat dunianya sendiri dan akan mati sendiri. Kita jangan bergaul dengan orang miskin nanti akan ketularan dan berpikir serta bersikap seperti orang miskin. Dunia orang miskin adalah dunia yang tidak sehat dan super sempit sehingga masuk kedalamnya akan sangat sulit untuk keluar lagi dari dalamnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendapat ini sederhana tetapi kejam dan biadab, orang miskin juga sama hakekatnya dengan orang kaya dimana datang ke dunia punya tujuan dan tanggung jawab begitu juga orang yang kaya. Pada hakekatnya juga sama karena orang yang kaya sama dengan orang yang miskin tetapi orang kaya dicoba dengan kekayaan sedangkan orang miskin dengan kemiskinannya dan dihadapan Allah swt pada prinsipnya semuanya sama tergantung perbuatan dan amalannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah benar orang miskin itu dibiarkan akan mati sendiri atau dalam kehidupan nyata ternyata mereka bisa dimanfaatkan sebagai senjata yang handal untuk mengganggu dalam segala bidang. Apakah untuk Demonstrasi sebagai massa bayaran. Apakah sebagai pelaku pemboman dan berbagai tindak kekerasan lainnya atau juga sebagai hitman. Untuk urusan ini katakanlah jangan takut karena ada kepolisian sehingga orang miskin itu akan teralenisiasi jika melawan kan terkena peluru polisi seperti terjadi diberbagai daerah. Pertanyaannya akan sejauh mana hal ini akan terjadi?.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana dengan one man one vote?. Sehingga semakin banyak orang miskin maka akan semakin mudah politik digoyang dengan menggunakan alat orang orang miskin itu?. Ini semua dari segi pikiran manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari perjalanan sejarah yang terjadi sebuah negara dan bangsa seberapa kuatnya sebelumnya ternyata ketika jumlah orang miskinnya tidak terlendali maka negara dan bangsa itu akan runtuh sehingga lenyap dari catatan sejarah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang silakan dilihat diberbagai negara bagaimana dampaknya kemiskinan dan orang miskin terhadap kehidupan masyarakat dan negara?. Hasulnya semakin banyak orang miskin dan kemiskinan maka semua yang ada disitu dalam posisi berbahaya apalagi pada kenyataannya dimiskinkan. Sehingga orang miskin tidak lagi dalam posisi bersyukur dan menjalankan ibadahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atas berbahayanya kemiskinan dan orang miskin yang dekat dengan kekhufuran maka tidak ada pilihan lain bahwa kemiskinan harus dibasmni dan bukannya dengan membasmi orang miskin tetapi dengan membasmi kemiskinannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Persoalannya tidak banyak ang berhasil membasminya sehingga diberbagai temoat malahan kemiskinan lah yang semakin meningkat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;III. Indonesia tidak layak miskin tetapi sulit keluar dari kemiskinan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Indonesia sebuah bangsa dan negara yang kekayaannya sungguh luar biasa pertanyaannya kenapa kemiskinan masih ada dan banyak?, hanya dengan sebab yang sederhana kemiskinan di Indnesia bisa masih banyak, yaitu pertumbuhan ekonomi tidak menumbuhkan keadilan dan pengabdian melaksankan kebaikan. Disisi lainnya pertumbuhan kejahatan masih tinggi sehingga pada kenyataannya persoalan yang ada semakin bertambah dan merusak kebaikan yang muncul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebaliknya diberbagai belahan dunia ada beberapa bangsa yang tidak punya kekayaan alam seperti jepang, korea, Singapura dll tetapi ternyata berhasil dan ternyata kincinya pada ketangguhan manusianya dan keteguhan hati membangun bangsa dan negaranya melalui pribadi dan keluarganya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apalah ini sebagai pembuktian bahwa pendidikan di Indonesia gagal total?. Saya lebih suka mengatakan bahwa ini adalah dimana yang dilakukan dirumah, disekolah dan dimasyarakat dan dunia kerja semuanya tidak bersinergy serta malahan bertabrakan. Setelah selesai sekolah terlalu banyak yang bingung dan keleleran dan terlunta lunta, padahal saat ini betapa mahalnya masuk kedalam dunia pendidikan di Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu juga ketika antara keluarga dan lingkungan terdekat juga saling membingungkan sehingga yang terjadi munculnya pribadi pribadi yang tidak matang dan malahan terbawa arus besar saah arah bukannya menjadi tonggak tonggak yang tangguh dalam kehidupan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahasa singkatnya terlalu banyak racun yang terserap kedalam tubuh sehingga kalaupuns seharusnya semua yang ada dihadapan itu ada manfaatnya tetapi yang terjadi mayoritas malahan menjadi racun dan penyakit. Apakah itu mulai dari sistim politik, ekonomi, hukum , sampai internet, facebook dan psp dan game lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karenanya problem utamanya bisa dikatakan banyak hal yang ditumbuhkan malahan menjadi perusak dan racun bukannya menghasilkan kebaikan dan kemaslahatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang persoalannya bagaimana menumbuhkan kebaikan dan kemaslahatan disegala bidang sehingga tumbuh keadilan dan pengabdian?. Apakah ini dosa besar akibat tersia siakannya orang orang miskin sehingga kemiskinan terus meningkat dan persoalan juga semakin bertambah karena berbagai kemudaratan terjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini saatnya memutus rantai kemiskinan ini sehingga segera terjadi dimana berbagai kebaikan muncul dan menghasilkan kebaikan lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah benar ketika sudah tertutup perbuatan baik dan kebaikan maka yang akan terjadi adalah berbagai persoalan yang menyesakan dada dan semakin hari semuanya akan semakin membuat panasnya persoalan dan ketika semakin panas maka jangan heran semuanya akan saling membakar. Hasilnya sudah pasti semuanya akan hangus.&lt;br /&gt;Apakah kita semua ingin hangus terbakar, jawabnya pasti tidak?.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;IV. Perubahan Paradigma dan pengorganisasian sebagai awal solusi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan kondisi yang ada sekarang ini yang dibutuhkan adalah negara serta pemerintah dan semuanya orang yang beruntung untuk membangun pengorganisasian supaya semakin terbangun kelompok yang punya kehidupan maslahat, tumbuhnya keadilan dan pengabdian sehingga embryo ini akan semakin tumbuh dimana mana dan menghasilkan kebaikan dan kemaslahatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada zaman sekarang tidak ada pilihan lain ketika akan melakukan sesuatu yang idiologies maka sekaligus harus memperbaiki perekonomiannya walaupun itu harus menumbuhkan keadilan dan semangat pengabdian. Wahana yang luas dan punya kesempatan salah satunya adalah Koperasi dan UKM tetapi dengan pola pengorganisasian yang tepat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cilakanya kuat kesan bahwa koperasi itu gagal dan ukm itu banyak kekurangan dan kumuh. Politik penciraan tidak akan bermanfaat bagi perbaikan persoalan ini oleh karenanya harus hal yang bisa memperbaikinya langsung secara nyata&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lihatlah bagaimana ramainya orang menrima zakat dan sedekah. Mereka berdesak desakan dan menjadi korban akibat tidak sabarannya dan antusiame menerima sumbangan bahkan tidak jarang juga banyak yang meninggal karena kecelakaan. Fenomena ini tidak lain adalah sebagai cerminan betapa masih banyaknya anak anak bangsa di Indonesia yang masih serba kekurangan dan butuh bantuan sehingga bisa lebih merasakan sedikit kelonggaran dalam kehidupannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu juga pengiriman TKI dan TKW ke luar negeri disini terlihat jelas keberanian dan keiklasan para perantau bahwa demi kehidupan keluarganya mereka mempertaruhkan segala galanya. Bukan hanya banyak yang meninggal, disiksa dan terpaksa menitipkan anak anaknya hasil hubungannya di luar negeri kepada yang berminat supaya kehidupan dikampung bisa menjadi lebih baik. Tentunya banyak juga anak anak bangsa Indonesia yang bisa hidup lebih baik setelah melakukan perantauan ini walau ada juga yang akhirnya berakhir disana atau pulang dengan membawa bencana. Disini sungguh terlihat betapa berani dan bertanggung jawabnya orang Indonesia terhadap keluarga dan anak anak serta kehidupannya sehingga berani mempertaruhkan jiwanya demi kehidupan yang lebih baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disisi lain lagi di Indonesia dapat terlihat dan dirasakan bahwa seluruh anak bangsa tidak terasakan menolak suku bangsa manapun yang datang dari belahan dunia manapun. Berbagai suku bangsa di Indonesia dapat hidup rukun dan berdampingan serta saling mengisi dalam kehidupan sehari harinya. Di Indonesia sendiri yang asli tidak kurang dari ratusan bahasa dan suku bangsa kemudian dari fakta yang ada saat ini berbagai suku bangsa di dunia sudah banyak yang lehir dan menjadi orang Indonesia, apakah Arab, Persia, China, Perancis, Rusia, Portugis, India, Jerman, Italia, Usa, Ceko, Vietnam, Jepang, Korea, keturunan Afrika, dll. Mereka semuanya hidup tanpa merasa sebagai orang asing dan dianggap sebagai orang asing. Mereka orang Indonesia. Ini kelebihan Indonesia sehingga dapat dipastikan suatu saat sebagai jembatan peradaban dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada awal abad 21 ini juga tidak terasa bahwa Indonesia telah diakui menjadi sebuah negara super penting sehingga masuk kedalam G 20. Kondisi ini tidak dapat dianggap sepele karena kenyataan ini juga sebagai arah balik dari posisi sebagai sebuah negara yang tadinya dijajah dan pra tahun 1945, kemudian menjadi negara yang mendorong kemerdekaan diberbagai belahan dunia, menjadi motor gerakan Non Blok ketika terjadi blok barat dan timur yang dimotori Nato dan pakta Warsawa, menjadi motor stabilitas kawasan asia tenggara, menjadi pelopor reformasi diberbagai belahan dunia. Saat ini telah diakui menjadi anggota G20. sekali lagi ini prestasi. Dan disinilah kita harus semakin meyakini bahwa para pendiri republik ini telah mengarahkan bahwasannya bangsa Indonesia sesuai pembukaan UUD 45 adalah arah yang tepat bagi negara dan bangsa Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan kenyataan itu maka peranan bangsa Indonesia pada percaturan dunia harus semakin intensif dan tepat guna. Dunia sedang berubah cepat bukan hanya krisis perekonomian dan kemanusiaan saja yang sedang terjadi tetapi alam sendiri saat ini sedang punya agendanya sendiri yang sering kali lebih memaksa dan dahsyat. Badai Katarina di USA, badai debu di Australia, Tsunami di Aceh, gempa di Yogyakarta, tsunami di pangandaran telah menjadi bukti nyata bahwa ketika bencana itu datang maka banyak hal bisa berubah dari rencana semula.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dunia saat ini sedang mencari bentuk baru peradabannya apakah karena rencana yang dibicarakan diantara pemimpin dunia , apakah pemimpin pemerintahan, pemimpin politik, aliansi NGO dan pemimpin Bisnis atau karena tekanan realitas atau juga karena kehendak alam sendiri seperti bencana diatas atau perubahan iklim yang semakin terasa pengaruhnya. Apakah akan ada imperium baru setelah Romawi, Persia, Yunani, Persemakmuran, dan Nato Plus atau G20 adalah embryo tersebarnya keadilan dan pengabdian kepada kemanusiaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan kondisi seperti itu maka sangat terbuka bagi bangsa Indonesia untuk mengabdikan dirinya kepada dunia, dengan cacatan sesuai dengan pembukaan UUD 45 dimana memasyarakatkan anti imperialisme, kolonialisme dan menjaga perdamaian dunia. Dunia perlu tentara perdamaian maka disitulah peluang patriot patriot Indonesia, dunia perlu politisi ulung di PBB disitu juga dibutuhkan peranan ahli politik asal indonesia, termasuk pelayanan kesehatan dll. Badan arbitrase internasional, mahkamah internasional dll. Ini sebuah tantangan besar bagi bangsa Indonesia. Pada tingkatan internasional banyak peluang dan tantangan dan itu adalah sebuah peluang sesuai dengan amanah pembukaan UUD45. Dan semuanya itu diharapkan bukan hanya memberikan kesejahteraan dan nama baik saja kepada para ahli asal indonesia itu tetapi mutlak harus menumbuhkan keadilan dan pelaksanaan pengabdian kepada kemanusiaan di seluruh dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bangsa Indonesia harus menjadi motor dari pertumbuhan keadilan dan pengabdian kepada kemanusiaan dan perbaikan alam diseluruh dunia. Dan ini bukan hal yang bertentangan dengan nilai nilai yang hidup dalam kenyataan kehidupan bangsa Indonesia saat ini. Ini semua peranan akan terjadi akibat dari menyatunya dunia dan perubahan pada tataran internasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk menyambut zaman itu maka mutlak harus ada perbaikan yang mendasar didalam negeri saat ini supaya ketegangan sosial yang ada akibat perubahan zaman, tekanan kebutuhan dan perubahan iklim yang terjadi saat ini bangsa Indonesia harus punya wadah wadah, fase dan pola perubahan anak anak bangsanya sehingga siap menghadapi kehidupan yang perubahannya cepat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nilai nilai lama telah dianggap usang sedangkan nilai nilai baru belum tumbuh matang dan disepakati, dalam konteks ini maka selain swasta yang besar harus terus punya peranan yang semakin nyata dalam kehidupan sehari hari, disinilah juga UKM dan Koperasi harus berkembang sebagai usaha memunculkan kalangan menengah yang lebih banyak dan kuat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;V. Penutup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak kemerdekaan Indonesia dan sebelumnya banyak yang lebih suka melihat dan mempermalukan para pemimpin yang ada di indonesia, saya kira yang lebih baik adalah marilah kita hormati mereka dan lihatlah kelebihannya sehingga jika mau jujur dalam perjalanan sejarah moderen ini walaupun seperti tetatih tatih Indonesia semakin nyata masuk kedalam kelompok elite bangsa bangsa di dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelemahan beberapa personil anak bangsa ketika dipermalukan di dunia internasional apakah dalam forum dan diskusi kecil, lebih baik dilihat sebagai kelemahan personil dalam berargumentasi. Sesederhana ini?. Saya jawab ya. Alasannya saya dalam setiap pertemuan internasional dapat menjadi personil yang ketika Indonesia dipertanyakan dapat melakukan counter balik malahan membuat siapapun yang menyerang dapat terserang oleh berbagai pihak ketika sudah diberikan argumen yang jelas dan dengan latar belakang yang masuk akal serta berbasiskan pengetahuan yang ada. Dalam kerangka dimana kepercayaan diri harus tumbuh dan pengetahuan harus berkembang maka tidak ada pilihan lain selain pendidikan formal yang sedang berjalan maka pola pengorganisasian dengan mengedepankan pemberdayaan ekonomi mutlak harus menjadi garda terdepannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya kurang setuju jika pola yang digunakan selalu melihat sisi buruk dan memburuk burukannya. Misalnya seperti yang dilakukan Todung Mulya lubis dan Adnan Buyung terhadap KPK sekarang ini. Yang paling baik lakukan saja perbaikannya dan tidak memperparah kerusakan yang ada dengan mengatakan berbagai persoalan di masa sebelumnya. Contoh tindakan berbagai macam hal dimasa lalu dengan mengungkap ngungkap kekurangan untuk medelegitimasi pada akhirnya hanya akan memecah belah berbagai macam hal , yang paling buruk adalah justru keburukan itu justru dimanfaatkan oleh pihak lainnya. Apakah untuk kepentingan posisi tawar bisnisnya di indonesia atau mengacaukan stabilitas perpolitikan Indonesia. Yang dimaksudkan disini Todung dan adnan saat ini sedang tidak dalam posisinya sebagai NGO disitu tetapi ditunjuk Presiden sehingga selayaknya berperilaku tidak merusak situasi dan suasana atau memperkeruh keadaan. Dan sudah seharusnya tidak banyak berwacana kepada publik soal soal yang seharusnya diperbaiki saja karena sudah diberikan akses kepadanya untuk memperbaikinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali lagi jika di masyarakat sedang berkembang kesenjangan , ketidak adilan dan serbakekurangan masyarakat akan bisa lebih mudah diprovokasi kembali. Pada berbagai analisa dan prediksi sebelumnya sudah disampaikan bahwa berbagai gangguan akan terus datang dalam kerangka destabiltas kondisi Indonesia. Fakta ini juga menunjukan bahwa tidak ada pilihan lain bahwa keadilan, pengabdian yang berbasiskan nilai nilai kebaikan, masyarakat yang berpendidikan dan sejahtera mutlah untuk diwujudkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekali lagi tidak ada gunanya jika hanya merobek robek situasi dan silaturahmi dan sudah saatnya yang dilakukan itu untuk saling memperkuat posisi bangsa Indonesia dan indonesia. Pengrusakan negara dan bangsa sudah saatnya dihentikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mohon maaf lahir dan batin semoga panasnya situasi tidak keterusan menjadi situasi yang saling membakar karena jika itu terjadi hanya akan saling menghancurkan saja. Diatas disampaikan bahwa setelah kemerdekaan sampai sekarang kondisi kebangsaan Indonesia naik dan turun tetapi jika dilihat menyeluruh maka kondisinya membaik terus. Apakah kita belum puas dan masih banyak tantangan itu soal lain lagi. Hanya mengembalikan Indonesia kepada posisi ketidak pastian merupakan suatu yang membuat ratusan juta penduduk bangsa Indonesia menjadi punya persoalan yang sebenarnya bukan persoalannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika hal ini merupakan bagian dari mata pencaharian maka itulah tindakan yang tidak ada bedanya dengan terorisme dimana kekerasan atau destabiltas dilakukan tetapi motivnya untuk kepentingan ekonomi. Dan kembali lagi solusinya sama dengan meningkatkan pendidikan, pengorganisasian dan pemberdayaan masyarakat sehingga tindakan provokasi, iming iming dan berbagai jebakan tidak akan menjerat masyarakat kedalam kesulitan dan benturan yang berarti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana ketika pelaku tindak terorisme dipersepsikan sebagai guru agama yang santun dan bermoral jika ternyata motivasinya sekedar ekonomi dan geopolitik . Begitu ketika menyampaikan fakta fakta yang benar tetapi tidak tepat situasinya dan termotivasi untuk menunjukan bahwa paling paling segalanya saja. Dan perilaku ini juga pada kenyataannya akan mengundang pihak lainnya melakukan hal yang sejenis dan seperti biasanya ketika situasi sudah robek akan makin banyak orang yang akan turut serta merobeknya. Jika tujuannya merobek robek situasi maka sekali lagi tindakan ini tidak ada bedanya dengan tindakan terorisme.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga setelah idul fitri ini kita semua semakin jernih melihat situasi dan tegas berpendapat tanpa melakukan agenda dibalik itu semuanya. Mari kita jaga semua yang sudah dicapai dan dipunyai bangsa Indonesia ini. Semangat menahan nafsu dan berbuat baik yang ada di bulan Ramadhan semoga diteruskan sepanjang tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karenanya fokus mengurangi kemiskinan jangan lagi hanya dipandang sebagai soal perekonomian tetapi harus lebih luas dari persoalan itu dan soal kemiskinan itu bukan hanya dekat dengan kekhufuran saja tetapi lebih dari itu akan membuat negara menjadi dalam posisi yang tidak stabil, apalagi yang miskin itu akibat nganggur dan yang nganggur itu orang orang terdidik dan lulusan berbagai perguruan tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sekarang ada El nino sehingga banyak kebakaran sehingga jangan panasi situasi terus nanti banyak yang terbakar apalagi banyak yang menunggu kapan bisa bakar bakar bakaran lagi disamping situasinya memang bisa panas jika terus dibakar bakar serta tingginya kemiskinian juga merupakan bahan bakar yang mempercepat terjadinya kebakaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga bermanfaat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Agus muldya natakusumah&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8653220825386911259-3421629651766092327?l=mudacendekia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mudacendekia.blogspot.com/feeds/3421629651766092327/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8653220825386911259&amp;postID=3421629651766092327' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8653220825386911259/posts/default/3421629651766092327'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8653220825386911259/posts/default/3421629651766092327'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mudacendekia.blogspot.com/2009/10/catatan-agus-muldya-natakusumah-fokus.html' title='Catatan Agus Muldya Natakusumah: Fokus Mengurangi Kemiskinan bukan semata kepentingan Per Ekonomian.'/><author><name>muda.cendekia</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05721851366735628642</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='21' src='http://2.bp.blogspot.com/_t7g-TRyk8Gs/SjXceZgl5CI/AAAAAAAAADo/ig0udnJhDeQ/S220/LOGO+MC3.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8653220825386911259.post-1684832626274941846</id><published>2009-06-15T11:40:00.002+07:00</published><updated>2009-06-15T13:06:53.268+07:00</updated><title type='text'>CAPITA SELECTA KAMMI</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_t7g-TRyk8Gs/SjXdt_OTUcI/AAAAAAAAAEI/cixaUXKCjrU/s1600-h/cover+kapitaselekta+a.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5347423914707603906" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 240px; CURSOR: pointer; HEIGHT: 173px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_t7g-TRyk8Gs/SjXdt_OTUcI/AAAAAAAAAEI/cixaUXKCjrU/s320/cover+kapitaselekta+a.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;span style="FONT-WEIGHT: bold"&gt;A&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;nak-anak muda yang munuliskan langit pemikiran mereka dalam buku ini adalah monumen kecil yang tertanam antara tahan-tahun masa transisi kita. Sepuluh tahun usia reformasi sudah berlalu, kini bangsa indonesia memasuki sepuluh tahun kedua. Tantangan yang di dihadapi bangsa semakin kompleks, tidak lagi bisa di jawab secara oposisi binner. Gerakan mahasiswa harus turut terjun menyelesaikan problem bangsa dengan narasi besar yang dibawa sejak kelahirannya. KAMMI KAMMI yang dilahirkan dari lahir reformasi telah mengukir sejarah dalam posisinya yang tegas. Keni mengawali kisah sejarah dekade kedua usianya, KAMMI harus terus menyempurnakan diri dengan narasi yang radikal tetapi mudah di cerna. bangsa ini tidak saja kehilangan orang-orang besar, tetapi juga pikiran besar. mungkin itu maksutnya, teman-teman KAMMI ingin memulai menemukan keduanya, dari sebuah langkah kecil dalam buku ini. Buku ini baik untuk rujukan bagi para Aktivis Gerakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fahri Hamzah&lt;br /&gt;Deklarator dan ketua KAMMI 98 &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8653220825386911259-1684832626274941846?l=mudacendekia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mudacendekia.blogspot.com/feeds/1684832626274941846/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8653220825386911259&amp;postID=1684832626274941846' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8653220825386911259/posts/default/1684832626274941846'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8653220825386911259/posts/default/1684832626274941846'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mudacendekia.blogspot.com/2009/06/capita-selecta-kammi.html' title='CAPITA SELECTA KAMMI'/><author><name>muda.cendekia</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05721851366735628642</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='21' src='http://2.bp.blogspot.com/_t7g-TRyk8Gs/SjXceZgl5CI/AAAAAAAAADo/ig0udnJhDeQ/S220/LOGO+MC3.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_t7g-TRyk8Gs/SjXdt_OTUcI/AAAAAAAAAEI/cixaUXKCjrU/s72-c/cover+kapitaselekta+a.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8653220825386911259.post-3031565317194441240</id><published>2008-05-02T17:19:00.000+07:00</published><updated>2008-05-02T17:29:49.654+07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;div   style=";font-family:times new roman,new york,times,serif;font-size:12pt;"&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;TELAH TERBIT&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Buku Karya Rijalul Imam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-family:arial black;"&gt;MENYIAPKAN MOMENTUM&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt; &lt;div style="text-align: center;"&gt;Refleksi Paradigmatis Pemikiran Gerakan Pemuda untuk Membangun Bangsa&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tabiat kemunculan pergerakan, baik gerakan keumatan, kepemudaan, maupun gerakan sosial bahkan sebuah bangsa, pada dasarnya hadir disebabkan karena ada momentum. Apabila momentum &lt;span class="yshortcuts" id="lw_1206055101_0" style="border-bottom: 1px dashed rgb(0, 102, 204); cursor: pointer;"&gt;itu&lt;/span&gt; lewat, gerakan pun mengalami deklinasi. Jika demikian, agar gerakan tetap eksis, lalu apakah perlu diciptakan sebuah momentum? Apakah momentum bisa diciptakan? Lantas, di era turbulensi global ini, momentum apa yang harus disiapkan? Dari manakah memulainya? Temukanlah jawabannya di dalam buku ini.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;Komentar Tokoh:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Keistimewaan buku Menyiapkan Momentum terletak pada kegundahan penulisnya yang gemes atas keadaan bangsa ini. Dengan mengambil wisdom dari beberapa nabi terutama Nabi Sulaiman, Ibrahim, dan Yusuf, Rijalul Imam mencoba memberi sintesa baru sambil mengajak generasi muda untuk siap menjemput momentum kebangkitan bangsa.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Dr. Muhammad Syafii Antonio, MEc&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Ketua STEI Tazkia&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Praktisi Keuangan Syari’ah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Penulis buku ‘The Super Leader Super Manager&lt;/span&gt;’&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Berbagai perubahan besar di Dunia selalu digerakkan oleh sebuah ideologi besar. Perubahan sosial-politik di sebuah negara tidak dilahirkan dalam suasana dunia yang vakum, tetapi selalu berdialektis dengan pandangan dunia yang dianut seseorang atau kelompok sosial. Maka, tidak heran dalam perspektif konstruktivisme, realitas sosial itu merupakan hasil konstruksi manusia. Buku “Menyiapkan Momentum” karya Rijalul Imam—seorang aktivis dan pemikir muda Muslim ini—merupakan bagian dari ikhtiar untuk menggerakkan perubahan sejarah bangsa ini ke arah yang lebih baik. Saya menyambut hangat atas terbitnya buku ini, karena ini merupakan hasil refleksi penulisnya menyangkut arah masa depan umat dan bangsa ini, terutama apresiasi saya terhadap upaya Rijalul dalam mendiagnosa berbagai problem gerakan mahasiswa &lt;span class="yshortcuts" id="lw_1206055101_1" style="border-bottom: 1px dashed rgb(0, 102, 204); cursor: pointer;"&gt;Indonesia&lt;/span&gt; dalam mendesakkan perubahan-perubahan fundamental dan substantif di negeri ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Ahmad Heryawan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Tokoh Jawa Barat&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Ketua Umum PP Persatuan Umat Islam (PUI)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Urgensi buku ini ada pada konsen penulis kepada pergerakan pemuda Islam, al-akh Rijalul Imam aktif dalam da’wah thullabiyah sejak nyantri sampai sekarang. Dari pengalaman dan kafa’ah ilmiyahnya beliau menyajikan buku Menyiapkan Momentum sebagai refleksi pemikiran atas realitas pergerakan di tanah air pasca reformasi serta konsep yang ditawarkannya dalam upaya turut membangun kesadaran konsepsional gerakan dari sudut pandang Islam.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Aang Suandi, Lc&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Direktur WAMY &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;(World Assembly of Muslim Youth) Indonesia Office&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sungguh ini adalah buku yang luar biasa karena mampu memadukan antara kondisi realitas gerakan pemuda masa kini dengan realitas gerakan pemuda pada masa nabi-nabi. Yang kedua, hal tersebut pendekatannya melalui teoritik Al-Qur’an. Sangat sulit mencari penulis di Indonesia yang menulis buku tentang kepemimpinan kaum muda dengan mengungkap sisi tasawuf filosofisnya, yang mampu memberi ruh dan spirit baru perjuangan kaum muda. Oleh karena itu saya berharap jangan berhenti sampai satu buku ini saja. Semoga nanti akan banyak lagi karya-karyanya. Amin”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Minarni&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Sekretaris Jendral PB HMI&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Buku Menyiapkan Momentum yang ditulis sdr Rijalul Imam adalah baru, sebuah refleksi awal gagasan-gagasan besar tentang gerakan dakwah yang momentumnya sedang tumbuh subur di bumi &lt;span class="yshortcuts" id="lw_1206055101_2" style="border-bottom: 1px dashed rgb(0, 102, 204); cursor: pointer;"&gt;Indonesia&lt;/span&gt;. Buku ini ditulis oleh seorang pemikir muda sekaligus aktivis gerakan dakwah, sehingga gagasan-gagasannya insyaallah sesuai dengan realitas dakwah yang kita butuhkan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Nurhasan Zaidi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Ketua Umum PP Pemuda PUI&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;(Persatuan Umat Islam)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Momentum seringkali hadir tanpa diduga, sehingga kita kerap gagap membaca situasi keseluruhan saat-saat itu...Menciptakan momentum lebih mudah dikelola karena pelaku perubahan siap dengan berbagai sarana pendukung... Selamat atas terbitnya buku ‘Menyiapkan Momentum’ saudara Rijalul Imam, semoga menjadi khazanah pembaharuan pergerakan”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Taufik Amrullah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Ketua Umum KAMMI Pusat&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim &lt;span class="yshortcuts" id="lw_1206055101_3" style="border-bottom: 1px dashed rgb(0, 102, 204); cursor: pointer;"&gt;Indonesia&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Semua sepakat bahwa kita sedang melewati masa krisis multidimensi: krisis ekonomi, perpecahan umat, kerusakan akhlak dan moral, dll. Semua juga sepakat bahwa perubahan merupakan satu keharusan. Hampir sepuluh tahun Era Reformasi berlangsung, tetapi kita tidak menemukan apa yang diharapkan dan dicita-citakan. Ini berarti kepemimpinan bangsa/umat tidak mampu menentukan landasan yang benar untuk mencapai perubahan menuju tujuan yang diharapkan. Itu karena perubahan yang dilakukan jauh dari aturan yang digariskan oleh Yang Maha Memberi Perubahan. Itu sebabnya diperlukan pemimpin yang memiliki kendali luas, memiliki kompetensi yang kuat dengan pendekatan dakwah global seperti halnya Nabi Sulaiman...Itulah yang menarik dari buku ini, sehingga perlu dibaca oleh para aktivis gerakan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Drs. H. Avid Solihin, MA&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Ketua Bidang Pengembangan Dakwah DDII Pusat&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;(Dewan Dakwah Islamiyah &lt;span class="yshortcuts" id="lw_1206055101_4" style="border-bottom: 1px dashed rgb(0, 102, 204); background: transparent none repeat scroll 0% 50%; cursor: pointer; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial;"&gt;Indonesia&lt;/span&gt;)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Asy-Syabab waro’a jami’ittaghoyyurot (di balik setiap revolusi, pemuda adalah pemeran utamanya).” Ungkapan itu yang mungkin sangat tepat untuk mengapresiasi terbitnya buku ini. Oleh karena itu pada setiap fase pergerakan pasti ada barisan pengusungnya, dan merekalah para pemuda. Anda yang berdarah muda dan mendambakan kejayaan, bacalah buku ini...Luar biasa, menarik, dan sarat nilai keislaman...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Ahmad Mukti Ali, Lc&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Presiden ISLAH periode 2005-2007&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Buku ini buku yang inspiratif, karena di dalamnya menggunakan dua literatur, literatur Qur’ani-Timur Tengah dan literatur Amerika-Eropa. Buku ini saya kira adalah cermin dari pemikiran dan pengalaman penulis yang memang memiliki kepahaman tinggi dalam memadukan dunia pergerakan dan literasi...”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Agung Andri&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Mahasiswa Program Pascasarjana&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kajian Stratejik Pengembangan Kepemimpinan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Pengkajian Ketahanan Nasional&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Universitas Indonesia&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Inilah Kitab Pergerakan Pemuda Islam Indonesia karya aktivis muda yang layak disebut ideolog KAMMI. Buku yang sarat inspirasi pergerakan dengan referensi qur’ani. Memicu dan memacu akselerasi kebangkitan bangsa dan peradaban. Move with Love...”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Indra Kusumah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Penulis buku ‘Risalah Pergerakan Mahasiswa’&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diterbitkan oleh &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;KAMMI Pusat&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Jl. Persada Raya no 6 Menteng Dalam&lt;br /&gt;Kec. Tebet Jakarta Selatan&lt;br /&gt;Telepon/Fax (021)8356711&lt;br /&gt;&lt;a rel="nofollow" target="_blank" href="http://www.kammi.or.id/"&gt;&lt;span class="yshortcuts" id="lw_1206055101_5"&gt;http://www.kammi.or.id&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dicetak dan didistribusikan oleh&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Muda Cendekia&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Jl. Purwakarta III no. 32&lt;br /&gt;Antapani &lt;span class="yshortcuts" id="lw_1206055101_6" style="border-bottom: 1px dashed rgb(0, 102, 204); background: transparent none repeat scroll 0% 50%; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial; cursor: pointer;"&gt;Bandung&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;(022) 76122630&lt;br /&gt;&lt;span class="yshortcuts" id="lw_1206055101_7" style="border-bottom: 1px dashed rgb(0, 102, 204);"&gt;muda.cendekia@&lt;a rel="nofollow" target="_blank" href="http://gmail.com/"&gt;&lt;span class="yshortcuts" id="lw_1206057225_6" style="background: transparent none repeat scroll 0% 50%; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial;"&gt;&lt;span style="color: rgb(128, 0, 128);"&gt;gmail.com&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Informasi lebih lanjut hubungi &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Muda Cendekia Team&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8653220825386911259-3031565317194441240?l=mudacendekia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mudacendekia.blogspot.com/feeds/3031565317194441240/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8653220825386911259&amp;postID=3031565317194441240' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8653220825386911259/posts/default/3031565317194441240'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8653220825386911259/posts/default/3031565317194441240'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mudacendekia.blogspot.com/2008/05/telah-terbit-buku-karya-rijalul-imam.html' title=''/><author><name>muda.cendekia</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05721851366735628642</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='21' src='http://2.bp.blogspot.com/_t7g-TRyk8Gs/SjXceZgl5CI/AAAAAAAAADo/ig0udnJhDeQ/S220/LOGO+MC3.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8653220825386911259.post-3123096634914383586</id><published>2007-09-16T00:55:00.000+07:00</published><updated>2007-09-16T01:14:05.221+07:00</updated><title type='text'>FIQIH HUMAS GERAKAN</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Siapa yang tidak kenal Al-Jazeera di dunia pemberitaan? Saya kira, nama ini pasca “Tragedi 9/11” cukup akrab di telinga para wartawan dan aktivis pergerakan. Stasiun televisi yang terletak di Doha, Qatar, ini kerap mengungkap pemberitaan yang cukup mengimbangi reportase media massa Barat dalam berbagai kasus Dunia Islam. Terlebih, stasiun televisi ini sering mempublikasikan keberadaan dan wawancara ‘The Most Wonted’ Osama bin Laden yang membuat para penguasa AS berang. Di luar dugaan, setelah dilacak ternyata Al-Jazeera yang menghebohkan itu adalah stasiun televisi kecil, kantornya pun sederhana.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Apa yang membuat istimewa dari Al-Jazeera sehingga meresahkan Barat? Salah satunya adalah jaringan. Begitu juga, mengapa komunitas Barat yang besar itu pun cukup takut dengan masih hidupnya Osama bin Laden, sehingga mereka begitu semangat menghabiskan dana melobby sana sini, menyelenggarakan konferensi internasional dan aliansi untuk ’sekedar’ mendefinisikan dan merumuskan kerangka kerja penangkapan para ’teroris’ jaringan Osama itu? Jawabanya masih di Jaringan. Jaringanlah yang membuat seseorang atau organisasi terasa lebih besar. Semakin luas dan kuat jaringan sebuah pergerakan maka semakin kokoh pula daya dukungan pergerakan tersebut. Dalam konteks pergerakan KAMMI, Hubungan Masyarakat (Humas) merupakan kunci jejaringan itu.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;*          *          *&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Tulisan ini sedikit memberikan sumbangsih mengenai fiqh kehumasan sebuah gerakan. Tepatnya mengelaborasi beberapa taujih (petunjuk) Rabbani yang berkenaan dengan kehumasan yang terdapat di dalam al-Qur’an. Namun, dalam tulisan ini saya memaknai humas dalam dua dimensi: Bidang Kehumasan dan juga spirit kehumasan kader dan pengurus. Keduanya dibahasa secara berbaur, sehingga tidak ada demarkasi antara siapa yang melakukan apa, tapi semua bekerja dengan kesadaran yang sama. Sebab masalah kebidangan hanya masalah siapa yang diamanahi secara struktural, tapi tanggung jawab berhubungan dengan elemen masyarakat adalah tanggung jawab semua.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Terlepas dari pembedaan istilah mana tepat antara Humas dan PR (Public Releation), humas yang saya maksud adalah mereka yang bekerja dalam tiga paradigma kerja: positive image building (pencitraan), networking (jejaring), dan jurnalisme.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Di dalam al-Qur’an, tiga paradigma kerja humas tersebut terintegrasi dalam satu spirit, visi dan misi, yakni kemenangan Dakwah. Kerja-kerja pencitraan, penjaringan, dan jurnalisme akan memiliki elan vital jika ditopang dan berawal dari kekuatan dasar ideologinya. Tanpa spirit ini, kerja-kerja kehumasan terasa tanpa ruh dan tampak berjalan sendiri-sendiri tanpa ada sambungan dan keterkaitan satu dengan lainnya. Jika hal ini tidak diresapi oleh kader dan pengurus yang diamanahi akan berdampak pada kelunturan energi dakwah gerakan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Pencitraan &lt;em&gt;a la&lt;/em&gt; Nabi Yusuf a.s &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Surat Yusuf, menurut Amru Khalid, penulis buku Pesona Al-Qur’an, menggambarkan sosok Nabi Yusuf bukan sebagai nabi, tapi manusia biasa. Penjelasan mengenai kenabiannya justru diungkap di surat yang lain. Hikmah yang terkandung dari ilustrasi demikian, bagi kita, adalah bahwa dinamika Yusuf adalah problem yang dapat dipecahkan secara manusiawi, tanpa harus menunggu wahyu turun kembali ke bumi.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Satu kasus yang terkenal adalah fitnah wanita yang mengakibatkan dia masuk ke bui. Penjara adalah pilihan sadar Yusuf dari pada harus hidup di istana megah. Dari sini kemudian, beliau banyak berkontribusi memecahkan berbagai kasus, termasuk teka-teki mimpi Raja Mesir ketika itu. Al-kisah, setelah kasusnya terpecahkan melalui jawaban yang dititipkan pada utusan raja, Yusuf pun dipanggil menghadap Raja. Yusuf tahu, Raja amat membutuhkan orang yang dapat menjalankan grand program-nya sebagai antisipasi atas nasib sebuah bangsa selama 14 tahun di masa depan. Tapi Yusuf sadar, pengalamannya dijebloskan ke penjara menyisakan imej negatif di masyarakat yang akan menghalangi kelancaran kerja kenegaraan dan dakwahnya kelak. Karena itu beliau meminta citranya dibersihkan. Al-Qur’an merekam kejadian ini dengan memukau, bahwa kesalahan yang menyebabkan dia masuk ke penjara bukanlah kesalahan dirinya. Pengakuan ini diberikan oleh masyarakat bukan dari Yusuf. Citra Yusuf sudah positif, karena dirinya sendiri sejak semula telah menjaga nilai kebaikan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Raja berkata: "Bawalah dia kepadaku." Maka tatkala utusan itu datang kepada Yusuf, berkatalah Yusuf: "Kembalilah kepada tuanmu dan tanyakanlah kepadanya bagaimana halnya wanita-wanita yang telah melukai tangannya. Sesungguhnya Tuhanku, Maha Mengetahui tipu daya mereka."&lt;br /&gt;Raja berkata (kepada wanita-wanita itu): "Bagaimana keadaanmu ketika kamu menggoda Yusuf untuk menundukkan dirinya (kepadamu)?" Mereka berkata: "Maha Sempurna Allah, kami tiada mengetahui sesuatu keburukan dari padanya". Berkata isteri Al Aziz: "Sekarang jelaslah kebenaran itu, akulah yang menggodanya untuk menundukkan dirinya (kepadaku), dan sesungguhnya dia termasuk orang-orang yang benar."&lt;br /&gt;(Yusuf berkata): "Yang demikian itu agar dia (Al Aziz) mengetahui bahwa sesungguhnya aku tidak berkhianat kepadanya di belakangnya, dan bahwasanya Allah tidak meridhai tipu daya orang-orang yang berkhianat.&lt;/em&gt; (QS. Yusuf: 50-52)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membangun citra positif gerakan menuntut kita untuk konsisten dengan nilai baik yang dibawa gerakan tersebut. Untuk memperoleh daya dukung lebih, citra positif tidak cukup dengan tampil baik dan elegan semata, gerakan pun harus proaktif membangun citra yang diterima masyarakat luas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Networking di Surat Yasin&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Mari kita tadabburi sejenak ayat-ayat 13-21 surah Yasin ini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Dan buatlah bagi mereka suatu perumpamaan, yaitu penduduk suatu negeri ketika utusan-utusan datang kepada mereka. (13) (yaitu) ketika Kami mengutus kepada mereka dua orang utusan, lalu mereka mendustakan keduanya; kemudian Kami kuatkan dengan (utusan) yang ketiga, maka ketiga utusan itu berkata: "Sesungguhnya kami adalah orang-orang diutus kepadamu". (14)&lt;br /&gt;Mereka menjawab: "Kamu tidak lain hanyalah manusia seperti kami dan Allah Yang Maha Pemurah tidak menurunkan sesuatupun, kamu tidak lain hanyalah pendusta belaka". (15)&lt;br /&gt;Mereka berkata: "Tuhan kami mengetahui bahwa sesungguhnya kami adalah orang yang diutus kepada kamu". (16) Dan kewajiban kami tidak lain hanyalah menyampaikan (perintah Allah) dengan jelas". (17)&lt;br /&gt;Mereka menjawab: "Sesungguhnya kami bernasib malang karena kamu, sesungguhnya jika kamu tidak berhenti (menyeru kami), niscaya kami akan merajam kamu dan kamu pasti akan mendapat siksa yang pedih dari kami". (18)&lt;br /&gt;Utusan-utusan itu berkata: "Kemalangan kamu adalah karena kamu sendiri. Apakah jika kamu diberi peringatan (kamu bernasib malang)? Sebenarnya kamu adalah kaum yang melampui batas". (19)&lt;br /&gt;Dan datanglah dari ujung kota, seorang laki-laki dengan bergegas-gegas ia berkata: "Hai kaumku, ikutilah utusan-utusan itu". (20) Ikutilah orang yang tiada minta balasan kepadamu; dan mereka adalah orang-orang yang mendapat petunjuk. (21)&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Fragmen seorang lelaki yang bergegas dari ujung kota menunjukkan bahwa dakwah yang disampaikan oleh para utusan (nabi) tersebut sudah masuk dan terdengar ke pelosok-pelosok negeri, tetapi Dakwah di pusat perkotaan sendiri tidak cukup masif diterima—karena harus diuji validitas kerasulannya—padahal Allah telah memperkuat barisan dakwah dengan mengutus tiga Rasulullah. Seakan terdapat isyarat fenomena sosial bahwa kebenaran dakwah yang diserukan oleh ’internal’ utusan/gerakan tidak cukup kuat jika tidak didukung oleh kekuatan jaringan masyarakat/tokoh dari pihak mereka yang didakwahi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Jurnalisme Investigatif Hudhud&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Burung Hud-hud adalah bagian dari ‘pegawai’ kerajaan Nabi Sulaiman. Sempat ketika Sulaiman mengadakan koordinasi kerajaan, Beliau mengecek terlebih dahulu para pengurus kerajaan. Satu per satu diabsen. Dan ketika Beliau memanggil Hudhud, tidak ada yang menyahut. Sulaiman pun marah, karena ada stafnya yang indisipliner. Kejadian ini termaktub di dalam surah An-Naml:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Dan dia memeriksa burung-burung lalu berkata: "Mengapa aku tidak melihat Hud-hud, apakah dia termasuk yang tidak hadir. Sungguh aku benar-benar akan mengazabnya dengan azab yang keras atau benar-benar menyembelihnya kecuali jika benar-benar dia datang kepadaku dengan alasan yang terang".&lt;/em&gt; (QS. An-Naml: 20-21)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun ternyata ketidakhadiran Hud-hud, sebagai burung informan Nabi Sulaiman, justru ia tengah bekerja dalam bingkai dakwah juga di luar jam kerjanya. Hud-hud tengah melakukan jurnalisme investigatif, sebagaimana diceritakan di dalam ayat berikutnya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Maka tidak lama kemudian (datanglah Hud-hud), lalu ia berkata: "Aku telah mengetahui sesuatu yang kamu belum mengetahuinya; dan kubawa kepadamu dari negeri Saba suatu berita penting yang meyakinkan.&lt;/em&gt; (22)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikut hasil reportasenya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Sesungguhnya aku menjumpai seorang wanita (Balqis) yang memerintah mereka, dan dia dianugerahi segala sesuatu serta mempunyai singgasana yang besar. Aku mendapati dia dan kaumnya menyembah matahari, selain Allah; dan syaitan telah menjadikan mereka memandang indah perbuatan-perbuatan mereka lalu menghalangi mereka dari jalan (Allah), sehingga mereka tidak dapat petunjuk, agar mereka tidak menyembah Allah Yang mengeluarkan apa yang terpendam di langit dan di bumi dan Yang mengetahui apa yang kamu sembunyikan dan apa yang kamu nyatakan.&lt;/em&gt; (23-25)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hasil repotase ini diungkapkan dengan teliti dan penuh kekaguman, namun Hud-hud sadar dirinya juga sebagai da’i yang membawa misi dakwah tauhid, maka kekagumannya ditepis bahwa yang memiliki singgasana yang besar adalah Allah semata, dengan berita penutup:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Allah, tiada Tuhan Yang disembah kecuali Dia, Tuhan Yang mempunyai 'Arsy yang besar".&lt;/em&gt; (26)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengalaman Hud-hud di atas merupakan pelajaran berharga yang dapat kita terapkan dalam gerakan dakwah kita saat ini. Pertama, setiap prajurit dakwah adalah da’i yang membawa semangat dakwah tauhid. Kedua, setiap da’i bekerja untuk selalu up to date terhadap realitas medan dakwahnya. Ketiga, jiwa dan pikiran seorang aktivis pergerakan tersimpul dalam kata proaktif. Keempat, karena kita beramal jama’i, maka seorang staf harus selalu koordinasi dengan mas’ulnya, melaporkan hasil tugasnya, mas’ul pun demikian, bekerja sebagai pemimpinnya (QS. An-Naml: 27-28).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Menjadi Humas Progresif&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Bekerja sebagai bagian dari PR atau Humas adalah pekerjaan yang menyenangkan. Selain diri kita terlatih untuk dapat membangun porfermance yang baik, juga kita dapat membangun relasi yang luas. Silaturrahim, kata Rasulullah, dapat memperpanjang usia dan memperbanyak rezeki. Memang sabda ini benar adanya. Usia misi hidup kita menjadi panjang walaupun kita sudah tiada. Usia karya hidup kita pun akan lebih lama karena pintu-pintu kebaikan yang kita buka bagi kolektivitas gerakan kita karena kemudian akan dilanjutkan generasi berikutnya. Oleh karena itu, tiada kata putus asa dengan pekerjaan ini, yang tersisa hanyalah satu: progresivitas. Barang siapa yang aktif maka sebenarnya ia tengah menyiapkan tempat yang menyenangkan bagi dirinya...ujar al-Qur’an (faman ’amila shalihan fali-anfusihim yamhadun)&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;p align="justify"&gt;Setidaknya ada tiga hal yang menjadikan kehumasan kita menjadi Humas yang Progresif. Berikut Trend PR yang sekarang tengah berkembang:&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;em&gt;Berpikir Holisitik-Integralistik&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Ada dua makna yang dimaksud dengan berpikir holisitik dan integralistik. Pertama, Humas gerakan harus memahami visi dan misi gerakan secara menyeluruh, bahkan menjiwainya lebih mendalam. Dalam hal ini juga, seorang kader Humas harus up to date terhadap program kerja yang tengah dilakukan bidang-bidang yang lain, sehingga tidak terjadi gagap informasi internal ketika ditanya orang lain.&lt;br /&gt;Kedua, dari misi gerakan ke stakeholders gerakan. Maksudnya, Humas harus mampu menerjemahkan berbagai kehendak gerakan sesuai dengan keinginan publik atau stakeholder. Di antara keduanya mungkin terjadi kontradiksi, nah kerja humas adalah mengkomunikasikannya dengan kreatif. Gerakan yang kekeh tapi tidak memiliki kepekaan sosial alih-alih akan diasingkan masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;em&gt;Bekerja sebagai Strategic Tools&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Yang dimaksud dengan ‘alat strategis’ di sini bahwa Humas harus bekerja sebagai pekerja ahli yang mengatasi segala persoalan gerakan. Ketahuilah bahwa Humas adalah tangan kanan pemimpin gerakan, yang karenanya selalu mewakili pemimpin dalam berbagai persoalan, terutama menyangkut kebutuhan eksternal. Oleh karena itu, kader yang ada di Humas harus menyadari akan posisi strategis dirinya yang membawa peran signifikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;em&gt;Cendekiawan PR Kreatif&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Dari Gagasan ke Media Tulis&lt;br /&gt;Menjadi Humas gerakan merupakan kesempatan berharga untuk mengaktualisasikan potensi kecendikiawanan. Humas harus terlatih untuk menuliskan reportase, statement/ pernyataan sikap gerakan, ulasan kasus, wawanacara Ketua Umum/Sekjen/Bidang terkait, dan ide-ide brilian anda. Sosialisasi gagasan/wacana yang dimiliki gerakan akan lebih dinamis jika ditopang oleh Humas yang terlatih meramu gagasan menjadi tulisan yang dapat dibaca dan ‘dicicipi’ orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Dari Tulisan ke Media Visual&lt;br /&gt;Jhon Naisbitt, seorang futurolog terkenal penulis Megatrend 2000 di tahun ’90-an, di buku terbarunya, Mind Set (2007), mengatakan bahwa masa depan terletak di masa kini. Menurutnya, tren budaya masa depan lebih didominasi oleh tren visual. Buku novel tebal yang memuat ribuan kata akan diambil alih oleh fragmen visual beberapa menit. Begitu juga rancang bangun rumah masa depan adalah rancang bangun yang visualistik (kreatif) tidak semata kubus atau berbaris rapi. Di sini Humas harus lebih kreatif untuk mendokumenkan berbagai gagasan, acara, promosi gerakan, dll, secara digital, visualis, dan kreatif. Begitu juga dalam mengemas gagasan ideologi gerakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Dari Media ke Performance Pribadi&lt;br /&gt;Selain kreativitas karya-karya kehumasan, secara pribadi pun seorang Humas harus tampil terampil dalam pribadinya. Humas dapat bekerja dengan berbagai performance, sesuai perannya: PR itu sendiri, reporter, dokumenter, atau mewakili bidang lain.&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;strong&gt;Bentuk-bentuk Komunikasi Qur’ani&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Sebagai seorang Humas bagi sebuah gerakan politik mahasiswa yang bernapaskan dakwah, perlu juga menguasai performance komunikasi qur’ani berikut ini:&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Ø       &lt;em&gt;Qoulan Kariman&lt;/em&gt; (komunikasi yang mulia)&lt;br /&gt;Bentuk komunikasi kariman ini ditujukan pada generasi yang berinteraksi dengan orang tuanya. Generasi yang lebih tua dan lebih dahulu mengenyam pengalaman adalah tempat kita untuk menyerap berbagai pengetahuan dan ilmu kehidupannya. Sebagai seorang kader dakwah, tugas utamanya adalah banyak belajar pada para pakar/tokoh sezaman yang masih hidup di zamannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ø       &lt;em&gt;Qoulan Layyinan&lt;/em&gt; (komunikasi yang lembut)&lt;br /&gt;Di dalam Al-Qur’an, kalimah ini digunakan ketika Allah memerintahkan Musa agar menemui Fir’aun dengan bahasa yang layyin. Komunikasi seperti ini adalah teknik diplomasi gerakan profetik mengkomunikasikan pesan gerakkannya pada penguasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ø       &lt;em&gt;Qoulan Maisuran&lt;/em&gt; (komunikasi yang memudahkan)&lt;br /&gt;Perkataan yang memudahkan merupakan sarana penyampaian gagasan besar secara sederhana, gagasan rumit lebih mudah dicerna, dan ide teoritis jadi aplikatif. Tingkat berpikir masyarakat yang berbeda-beda, terkadang jadi kendala gerakan. pola komunikasi yang memudahkan ini merupakan langkah terjadinya salah persepsi publik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ø       &lt;em&gt;Qoulan Ma’rufan&lt;/em&gt; (komunikasi yang tegas)&lt;br /&gt;Ada bahasa logika, ada pula bahasa perasaan. Kedua-duanya terkadang tidak singkron. Tapi yang disebut kebenaran tidak bisa berbunyi jika tidak diungkapkan dengan bahasa yang tegas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ø       &lt;em&gt;Qoulan Sadidan&lt;/em&gt; (komunikasi yang jujur)&lt;br /&gt;Ayatnya berkenaan dengan proses alih generasi. Kekhawatiran kita akan kelemahan generasi pelanjut, disarankan al-Qur’an agar bertakwa dan selalu berkomunikasi yang jujur. Kejujuran dalam konteks kehumasan amat penting. Jika sebuah gerakan mengungkap data-data yang tidak valid bisa terjebak kebohongan publik, sekalipun logikanya benar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ø       &lt;em&gt;Qoulan Balighan &lt;/em&gt;(komunikasi yang sampai ke pikiran dan menyentuh hati)&lt;br /&gt;Sebuah idealisme terkadang sampai pada sekelompok atau seseorang dengan bentuk verbal. Maka tugas gerakan adalah melakukan verbalisasi ide-ide ataupun peliputannya. Dan terkadang, sebuah idealisme atau fakta dapat diterima jika dirancang secara kreatif dan menyentuh. Maka tugas gerakan adalah memformulasikan dengan tepat dan menarik.&lt;br /&gt;Keenam bentuk komunikasi dalam al-Qur’an ini di lapangan dapat berbaur secara terpadu, tinggal bagaimana kita lincah menggunakannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Catatan&lt;/em&gt;:&lt;br /&gt;Sebagai gerakan dakwah tampilan gerakan harus mencerminkan muatan nilai dan moral, termasuk dalam aksi jalanan. Protes adalah hal yang wajar karena bagian implementasi dari Tauhid Sosial dan agar terhindar dari penyesalan di akhirat. (QS. Al-Ahzab: 67-68)&lt;br /&gt;Yang perlu dijaga adalah etikanya, sehingga jika pun harus aksi jalanan yang dituju bukan pada personalnya tetapi tindakannya. (QS. An-Nisa’: 148)&lt;br /&gt;Juga tidak pula menyentuh hal-hal yang sensitif di masyarakat, seperti yang dilansir surah Al-An’am: 108, yang berbunyi:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan janganlah kamu memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan. Demikianlah Kami jadikan setiap umat menganggap baik pekerjaan mereka. Kemudian kepada Tuhan merekalah kembali mereka, lalu Dia memberitakan kepada mereka apa yang dahulu mereka kerjakan.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Etika Jaringan&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Adalah surat al-Hujurat yang menjelaskan fakta sosial bahwa manusia itu berkamar-kamar. Mereka memiliki ruang komunikasi sendiri yang terinstitusi, terlembagakan, bahkan memiliki hak privasi tersendiri, seperti kalangan tokoh. Dengan demikian Peran Humas dalam hal ini adalah membangun jaringan dengan beberapa etika yang diisyaratkan al-Qur’an berikut ini:&lt;br /&gt;a.       Tidak (sok) lebih tahu dari pakarnya&lt;br /&gt;Pada prinsipnya seorang Humas ketika memperluas jaringan dalam konteks memberi dan menerima. Memiliki jaringan dengan seorang pakar atau sebuah institusi, etika harus dijaga salah satunya tidak mendahului mereka yang lebih ahli. (1)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b.       Menjaga intonasi suara agar tidak menyakitkan&lt;br /&gt;Terkadang ada pihak-pihak tertentu yang menyukai kawan bicaranya tegas, tapi lain pihak lembut dan tenang. (2-3)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c.       Lebih etis melalui jalur depan&lt;br /&gt;Biasanya jalur belakang lebih cepat, tapi jalur depan pun menunjukkan tingkat gentle kita. (4)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;d.       Klarifikatif&lt;br /&gt;Aktivis gerakan Islam jangan mudah termakan berita. Fungsi klarifikasi harus lebih dikedepankan jika mendapat informasi penting, tidak reaktif dan sporadis. Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu. (6)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;e.       Memiliki MoU yang jelas&lt;br /&gt;Kesepakatan di antara dua institusi atau dengan kalangan tokoh dalam beberapa momentum perlu kejelasan kontrak. Seperti kasus reformasi yang menggait tokoh atau pilihan bupati dalam pilkada, kontrak politik harus jelas agar tidak ada efek samping. Namun demikian ukhuwah lebih utama dari yang lainnya. (9-10)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;f.        Tidak saling merendahkan&lt;br /&gt;Jaringan yang kita bangun bukan jaringan yang sekedar say hallo, tapi jaringan yang bersifat permanen dan memiliki arti signifikan dalam kemenangan dakwah, maka jangan menganggap remeh orang lain. (11)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;g.       Positive Thinking&lt;br /&gt;Mengghibah selain berdosa, juga membawa efek sosial yang tidak baik. Berpikir positif dan klarifikatif lebih baik dari pada membicarakannya di belakang. (12)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;h.       Memahami pluralitas dan multikulturalisme&lt;br /&gt;Keragaman gerakan dan realitas sosial politik kita ikut memantik kearifan multikultural kita. Namun demikian tujuan dakwah adalah yang utama. Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal. (13)&lt;br /&gt;*          *          *&lt;br /&gt;Demikian sekilas tentang Fiqih Humas Gerakan. Penggunaan istilah Fiqih ini bukanlah ajaran fiqih baru yang selama ini kita maknai fiqh sebagai ilmu hukum agama, melainkan pada pemahamannya. Para ulama menyebutnya al-fiqh adalah al-fahmud-daqiq (pemahaman yang mendalam). Pemahaman mendalam itu kita dapatkan ketika kita mempraktekkannya, terjun ke lapangan. Menjadi Humas adalah tanggung jawab kita semua. Budaya silaturrahim gerakan perlu digalakkan. Budaya kreativitas pun perlu disemai. Semoga kelak publik akan mengetahui bahwa Dakwah Islam inilah yang akan menyelamatkan bangsa dan dunia kita. &lt;em&gt;Allahu a’lam&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8653220825386911259-3123096634914383586?l=mudacendekia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mudacendekia.blogspot.com/feeds/3123096634914383586/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8653220825386911259&amp;postID=3123096634914383586' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8653220825386911259/posts/default/3123096634914383586'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8653220825386911259/posts/default/3123096634914383586'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mudacendekia.blogspot.com/2007/09/fiqih-humas-gerakan.html' title='FIQIH HUMAS GERAKAN'/><author><name>muda.cendekia</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05721851366735628642</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='21' src='http://2.bp.blogspot.com/_t7g-TRyk8Gs/SjXceZgl5CI/AAAAAAAAADo/ig0udnJhDeQ/S220/LOGO+MC3.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8653220825386911259.post-3719673161078951641</id><published>2007-09-11T06:40:00.000+07:00</published><updated>2007-09-11T06:52:12.465+07:00</updated><title type='text'>Tadabbur Cinta Para Nabi</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;strong&gt;Peristiwa Keimanan&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Pernikahan adalah sarana yang Allah berikan pada setiap insan yang berharap limpahan kebaikan. Allah menjanjikan sakinah (ketenangan), mawaddah (kerinduan), dan rahmah (kasih sayang) bagi mereka yang melangsungkan akad pernikahan. Melalui pernikahan akan terlahir berbagai kebaikan dan memadukan agenda perbaikan. Allah Maha Pemurah dan karena Kemahamurahan-Nya pula hamba-hamba-Nya dimudahkan untuk mendapatkan kemaslahatan yang lebih luas, seluas bentangan kasih sayang-Nya. Karena itulah pernikahan merupakan peristiwa keimanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya, Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri, agar kamu cenderung dan merasa tentram kepadanya, dan Dia menjadikan di antara kamu rasa kasih dan sayang. Sungguh, dalam hal itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berfikir.” (QS. Ar-Rum: 21)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Berawal dari Negeri Akhirat&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Namun segalanya harus bermula dari tujuan akhir, yakni kebaikan hidup di Negeri Akhirat. Karena di sanalah kehidupan yang sesungguhnya. “Dan tidaklah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan permainan belaka, dan sesungguhnya kehidupan akhirat adalah sebenar-benarnya kehidupan, jika mereka mengetahui.” (QS. Al-Ankabut: 64)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang dilakukan manusia harus selalu dalam sandaran pada keridhaan-Nya. Pernikahan yang landasannya iman menjadikan cahaya cintanya adalah cinta yang dirahmati. Cinta insani ini pun yang mendapatkan curahan rahmat yang meninggikan derajatnya di negeri akhirat. Allah berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Itulah negeri akhirat yang Kami jadikan bagi orang-orang yang tidak menghendaki kesombongan di muka bumi dan tidak pula kerusakan. Dan akibat segala perbuatan itu kembali pada mereka yang bertakwa. Barangsiapa yang mendatangkan kebaikan maka baginya pahala kebaikan pula. Dan barangsiapa mendatangkan keburukan maka dia tidak akan dibalas selain dengan apa yang telah mereka perbuat.” (QS. Al-Qashash: 83-84)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu tujuan pernikahan selain untuk mendapatkan kebaikan-kebaikan di dunia juga adalah untuk kebahagiaan kehidupan panjang di negeri akhirat kelak. Pernikahan adalah salah satu di antara sarana Allah agar tiap individu dapat menjaga diri. Allah swt. menjanjikan bagi mereka yang menjaga diri dan takut pada kebesaran-Nya akan mendapatkan dua surga, surga di dunia dan surga di akhirat, bahkan di akhirat pun dijanjikan mendapatkan dua surga bersamaan yang masing-masing luasnya seluas langit dan bumi:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan bagi orang yang takut pada Rabb-nya mendapat dua surga. Maka nikmat Tuhanmu manakah akan kau dustakan?” (QS. Ar-Rahman: 46-47)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh sangat berat kehidupan pribadi maupun keluarga jika tidak disandarkan pada Dzat Allah. Laa haula walaa quwata illa billah. Allah-lah Sang Pemilik kehidupan ini, maka segala tujuan dan sarana yang diberikannya harus selalu dalam naungan kebergantungan diri pada Allah. Allah-lah tempat bergantung (QS. Al-Ikhas: 2)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Ujian Cinta&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Tetapi Allah tidak begitu saja memberikan kenikmatan pada hamba-Nya tanpa mengujinya terlebih dahulu di dunia. Ibarat sebuah jalan, kehidupan pun tidak linier, ia berliku dan terkadang penuh onak duri. Satu jalan kebaikan kadang dilalui dengan lurus, tapi memasuki jalan lain ujian menimpanya. Hal itu terjadi untuk memunculkan potensi keistiqamahan yang dimiliki seorang hamba. Ia terjadi di berbagai aspek kehidupan yang dicita-citakan manusia—termasuk dalam hal kecintaan pada-Nya. Manusia yang tidak memiliki cita-cita, mungkin ia merasa hidup tanpa beban, tapi bagi mereka yang memiliki himmah yang tinggi, berbagai cobaan akan mengujinya. Apakah ia lulus ataukah gagal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ujian itu pula yang menimpa Yusuf, Musa, dan Sulaiman. Mereka para nabi mulia itu mendapat ujian yang sangat keras, bahkan lebih keras dari segala apa yang menimpa kita. Dan salah satu ujian mereka adalah ketika mereka diuji cinta. Al-Qur’an mencatat dan merekamnya agar menjadi ibrah bagi kita untuk menjalani ujian kehidupan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Ketika Cinta Menguji Yusuf&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Yusuf, sebagaimana dikisahkan secara utuh dalam satu surat al-Qur’an: surat Yusuf, ia menjalani kehidupannya secara berliku. Jika anda pernah membaca kisah-kisah novel terbaik di dunia, maka kisah Yusuf menempati posisi tertinggi dalam segalanya. Kisahnya mirip novel karena dirangkai dengan bahasa sastrawi (balaghah) yang tinggi, ia memuat berbagai kaidah sastra novel standard: seperti kisahnya diawali dengan cerita pembukaan yang membuat penasaran—mimpi matahari, bulan dan sebelas bintang bersujud padanya—dan diakhiri dengan jawaban atas penasaran itu dengan peristiwa memukau yang dapat meluruhkan air mata. Atau simbol–simbol tertentu yang menjadi jawaban atas tanda yang lainnya, seperti kain bajunya yang didustakan oleh saudara-saudara Yusuf dengan lumuran darah serigala, ternyata kain bajunya yang sobek pula yang menjadi bukti kebenaran bahwa Yusuf tidak bersalah ketika isteri al-Aziz menggodanya. Selain nilai sastrawi, juga karena sebaik-baik kisah ini dikisahkan oleh Sang Maha Terbaik. Wa qashashnahu ahsanul qashash.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di setiap kisah novel selalu ada gelombang alur cerita yang terkadang membuat pembacanya terbawa emosi, sedih, marah, gembira, tertegun, bahkan ikut tegang dan hanyut dalam kisah itu. Begitu juga kisah Yusuf, ia penuh gelombang liku kehidupan yang sinematis dan bahkan menegangkan. Dalam kisahnya, ada lima posisi Yusuf dalam gelombang kehidupan itu tiga posisinya di atas dan dua posisi lainnya yang menunjukkan keterpurukan yang menyedihkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Posisinya yang menggembirakan yakni ketika ia dalam naungan kasih sayang dan cinta ayahnya. Mungkin kita menganggap itu adalah posisi aman, tapi justru dari sanalah ujian tiba yang menyebabkan Yusuf dilemparkan ke sumur akibat iri dengki saudara-saudaranya. Kita juga mungkin menyangka di kejatuhannya itu adalah sebuah kenistaan, tapi justru dari sanalah ia diangkat dan dibawa ke istana lalu dipelihara dan dibesarkan oleh keluarga al-Aziz.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin juga kita terjebak bahwa di posisi nyaman itu kisah hidup selesai, dan betapa bahagianya Yusuf yang dilempar ke sumur ternyata bisa hidup mewah di istana secara gratis. Kenyataan berbicara lain, ujian menimpa kembali ketika ia semakin beranjak dewasa dan cinta Zulaikha menggodanya—yang menurut Ibnu Qayyim al-Jauziyah—hingga ke level syaghaf (cinta yang menggila) yang kemudian ia pun dijebloskan ke penjara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin sebagian kita pun beranggapan Yusuf dalam posisi yang sangat buruk. Tapi justru dari penjaralah segalanya bermula: perubahan pun terjadi ia semakin dikenal sebagai seorang da’i dan pentakwil mimpi yang selalu tepat dengan kenyataan yang kemudian kabar tentangnya memikat hati raja untuk mengundangnya dialog dan akhirnya segera menjadikannya menteri kesejahteraan rakyat Mesir ketika itu. Dan makmurlah Mesir setelah melewati tujuh tahun masa-masa berat perekonomian dan sumber daya alam negeri itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Liku kehidupan dengan keragaman uji coba ini: dari ujian keluarga, ujian cinta, hingga ujian bangsa dan negaranya tidak membuat Yusuf jatuh terpuruk, malah semakin mengangkat derajatnya. Kisah Yusuf itu, sebagaimana ditafsirkan oleh Ulama Muda Ikhwanul Muslimin, Amru Khalid, dalam buku Pesona al-Qur’an, dipaparkan dalam satu surat secara utuh dan berangkai sistematis dengan menampilkan seluruh sisi kemanusiawiannya. Bahkan di surat 12 itu sosok Yusuf  tidak ditampilkan sebagai seorang nabi, ia disebut nabi di surat al-Qur’an lainnya. Dalam kisah ini tidak sama sekali. Hal ini menunjukkan bahwa persoalan-persoalan manusia juga dapat dipecahkan secara rasional tanpa harus menunggu kehebatan turun dari langit. Dan satu hal yang konsisten dari pribadi Yusuf ini adalah akhlaknya yang tidak berubah. Ia bergerak mantap dengan akhlaknya yang mulia sekalipun diuji secara ekstrim baik oleh kebaikan maupun keburukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Ketika Cinta Menaungi Musa&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Lain kisah Yusuf, lain pula kisah cinta Musa. Musa sebelum menjadi nabi telah mendapat ujian berat dari negerinya sebagaimana dikisahkan dalam ayat-ayat awal surat al-Qashash. Singkat cerita ia merasa bersalah karena terlibat dalam sebuah perkelahian, dengan dalih membela kerabatnya yang satu bangsa (Bani Israel) ia pun meninju mati lawannya dari bangsa keturunan Fir’aun. Setelah bertaubat atas kejadian itu, Musa dikabari akan dibunuh oleh pengawal Fir’aun dan ia pun lari hingga ke negeri Madyan. Di negeri Madyan inilah cinta Ilahi menaunginya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesampai di Madyan, Musa melihat sebagian warga sedang memberi minum ternaknya, namun secara sadar ia pun memperhatikan dua wanita yang tidak pandai memberi minum ternaknya. Maka, segera setelah menanyai hal itu ia pun membantunya. Al-Qur’an merekam kejadian itu dengan menggunakan lafadz fa saqa bukan tsumma saqa (QS. Al-Qashash: 24) yang menunjukkan kesegeraan membantu keduanya tanpa menunda-nunda dengan dalih mencari perhatian. Musa bersegera pada inti persoalan: memberinya minum. Setelah itu al-Qur’an pun merekamnya kembali dengan kalimat tsumma tawalla iladz-dzilli (lalu Musa menyingkir ke tempat yang teduh) yang menunjukkan etika Musa tidak berlama-lama menunggu ucapan terima kasih dari mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Dan Cinta-Nya menaunginya&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Di tempat berteduh itulah lantas Musa berdo’a: “Ya Rabb-ku sungguh aku sangat membutuhkan kebaikan yang Engkau turunkan”. Setelah ia berdo’a maka datanglah dua wanita itu dengan malu-malu (25). Istihya’ atau rasa malu adalah sifat asli perempuan yang mencerminkan keterjagaan akhlak dan kepribadiannya. Mereka datang pada Musa karena diminta ayahnya, Nabi Syu’aib, untuk menghadap. Kisah ini penuh isyarat yang inspiratif. Perhatikanlah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nabi Syu’aib mendengarkan perjalanan ujian yang menimpa Musa hingga tuntas lalu dengan jiwa kebapakannya, ia menenangkan gundah gulana pemuda Musa itu dengan mengatakan: Jangan takut, engkau telah selamat dari orang-orang dzalim itu (25). Lantas puterinya secara diplomatis melobby ayahnya untuk mempekerjakan pemuda Musa itu padanya yang sudah tua renta (syaikhun kabir) sebagai pembantu, karena Musa dikenal sebagai pemuda yang terpercaya lagi kuat (26). Tapi Nabi Syu’aib paham arah pembicaraan puterinya itu ke mana, lantas ia pun mengungkapkannya pada pemuda Musa itu dengan lembut: “Aku ingin menikahkan kamu dengan salah satu puteriku ini dengan syarat engkau bekerja padaku selama delapan tahun, jika menggenapkannya sepuluh tahun itu lebih baik bagimu.” Seakan dialog ini menginspirasikan bagi mereka yang hendak menikahkan puterinya untuk siap juga menerima sang pemuda apa adanya dan membantunya untuk mampu mandiri hingga dalam jangka beberapa waktu. Tapi Musa tidak lantas menjadikan kemudahan itu sebagai ‘mahar’ pernikahannya, ia hanya ingin bahwa perburuhan dirinya pada Nabi Syu’aib hanyalah bentuk kontrak tersendiri antara dia dengan dirinya saja (28).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Subhanallah, cinta-Nya menaunginya. Setelah selesai masa bekerjanya, Musa pun bangkit kembali menebarkan dakwah dan melakukan perlawanan terhadap kekuasaan Fir’aun yang lalim itu hingga tumbang. Keluarga (dan persaudaraannya dengan Nabi Harun as.) yang dibangun Musa dalam dakwahnya ini dapat saling bahu membahu hingga terbentuk formasi kekuatan gerakan dakwah yang kokoh dalam proses agenda tajdid (pembaharuan) agama dan bangsanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Ketika Sulaiman Menjemput Cinta&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Jika Yusuf dikejar cinta (qad syaghafaha hubban) dan Musa membutuhkan cinta untuk kebangkitan kembali energi dakwahnya, maka kisah Sulaiman yang direkam secara utuh dalam 30 ayat surat an-Naml 15-44 memaparkan bahwa Sulaiman membangun kerajaan peradaban cinta hingga peradaban lain terpesona dan takluk dalam keagungan dan kebesaran dakwah Islamnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari 30 ayat itu, di akhir kisah Al-Qur’an merekam peristiwa keterpesonaan Balqis pada keagungan dakwah, kerajaan, karya peradaban, dan pribadi Sulaiman dengan ungkapannya yang terkenal: “Tuhanku, sungguh aku telah mendzalimi diriku sendiri dan aku berserah diri bersama Sulaiman pada Allah Tuhan Semesta Alam.” (QS. An-Naml: 44).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesalahan dirinya diakui, karena memang selama ini ia menyembah matahari dan berlaku angkuh atas ajakan dakwah Sulaiman dengan menghadiahi Sulaiman kekayaan yang bersifat material, sedangkan Sulaiman menolaknya karena sifat dirinya yang Rabbaniyah bahkan menyatakan apa yang diberikannya sangat kecil dengan apa yang diberikan Allah padanya, hingga membuatnya marah dan bersikap tegas pada Negara Balqis dengan mengancamnya akan didatangkan pada mereka balatentara yang tidak mampu mereka hadapi (laa qibala lahum), yang akhirnya menjadikan mereka harus datang menghadap Sulaiman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan ungkapan ‘aku berserah diri bersama Sulaiman pada Allah’ menunjukkan keterpesonaan Balqis secara pribadi pada Sulaiman agar ia dapat menjalankan agama barunya (Islam) bersama Sulaiman, tidak sendirian!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimanakah Sulaiman dapat menjadi pribadi unggul yang mempesonakan? Setidaknya ada lima belas pilar yang dipaparkan Al-Qur’an dalam surat ini. Kelimabelas pilar itu dapat diringkas dalam empat kategori, yakni:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;A.    Modal Dasar&lt;br /&gt;Pilar Pertama, tradisi keilmuan yang kuat&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Dan sesungguhnya Kami telah memberi ilmu pada Daud dan Sulaiman (15). Awal dari setiap keunggulan adalah tradisi ilmiah. Bahkan para pahlawan mukmin sejati selalu menyenandungkan kalimat indah ini: Bahwa di setiap kebangkitan peradaban selalu diawali dari kebangkitan pengetahuan. Demikianlah al-Qur’an merekam fakta kebenaran itu melalui sikap mereka terhadap karunia berharga yang Allah berikan ini pada mereka: “Segala puji bagi Allah yang telah melebihkan kami dari kebanyakan hamba-hamba-Nya yang beriman.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Pilar Kedua, tradisi berguru dan pewarisan&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Dan Sulaiman mewarisi keunggulan Daud (16). Perhatikanlah bagaimana susunan i’rab al-Qur’an-nya, Sulaiman menjadi fa’il atas Daud, bukan Daud yang serta merta menurunkan segala kehebatannya pada Sulaiman. Artinya Sulaiman sebagai generasi muda lebih proaktif untuk meningkatkan kapasitas dirinya untuk menyamai bahkan melebihi keunggulan generasi sebelumnya. Semangat yang dibangun Sulaiman inilah menjadi contoh berharga bagi kita sebagai generasi muda untuk memantik tradisi berguru pada orang-orang terbaik yang hidup di zaman kita, bahkan mempelajari khazanah Islam dan bangsa-bangsa yang ditinggalkan generasi sebelumnya dan yang paling mutakhir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Pilar Ketiga, penguasaan bahasa asing&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Dan dia berkata: “Hai manusia kami telah diberi pengertian bahasa burung (16). Keunggulan sebuah peradaban terletak kemampuannya menguasai bahasa bangsa lain. Dengannya bargaining position dirinya dapat meningkatkan reputasinya di kancah pergaulan global, dan karenanya pula ia tidak mudah ditertawakan atau direndahkan bangsa asing lainnya. Karena itu pula seakan ayat ini mengisyaratkan kita agar perlu dirancang program pengentasan buta bahasa asing di kalangan umat Islam, terlebih bahasa arab, bahasa induknya, bahasa al-Qur’an.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Pilar Keempat, kepemilikan asset dan sumber daya&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Dan kami diberi segala sesuatu (16). Keberadaan sumber daya (resourches) dapat membuat diri kita dan bangsa ini tentunya memiliki kepercayaan diri untuk setara dengan bangsa-bangsa lainnya. Tradisi menjaga asset dan sumber daya perlu digalakkan dari mulai hal kecil seperti program menabung hingga kebijakan menjaga asset bangsa agar tidak dieksploitasi pihak asing yang membuat negeri ini sengsara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;B.    Kompetensi Dasar&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Pilar Kelima, manajemenship yang canggih&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Dan dihimpun oleh Sulaiman, tentaranya dari jin, manusia dan burung, lalu mereka itu diatur dengan tertib (17). Sulaiman tidak sekedar unggul untuk pribadinya, melainkan juga mampu memimpin yang lainnya. Salah satu skill leadership itu adalah kemampuannya mengorganisir. Sulaiman bekerja secara professional dan benar-benar eksis memimpin bukan sekedar menjabat. Terbukti ia mampu mengorganisir anggota-anggotanya yang berbeda-beda potensi, tingkat kecepatan, dan kapasitasnya dengan rapi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Pilar Keenam, kepekaan sosial yang tinggi&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Sulaiman sebagai pemimpin, tidak mengatur di belakang meja dengan duduk manis betopang dagu. Ia adalah pemimpin sejati yang sangat peka terhadap rakyatnya. Ia membiasakan dirinya dan melatih bawahannya untuk selalu ‘turba’ (turun ke bawah) melihat kondisi riil masyarakatnya, diriwayatkan perjalanannya hingga ke tempat-tempat yang tandus, “hingga ketika mereka sampai di lembah semut, berkatalah seekor semut, “Wahai semut-semut! Masuklah kalian ke sarang-sarangmu agar kamu tidak diinjak-injak oleh Sulaiman dan tentara-tentaranya, sedangkan mereka tidak menyadari.” Inilah yang harus dilakukan bagi mereka yang ingin unggul: mereka adalah orang-orang yang memiliki kepekaan sosial yang tinggi dan mampu memadukannya dengan kearifan pada bahasa lokal yang dia temui.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Pilar Ketujuh, verifikatif dan investigatif&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Mungkin kita sering mendapat masukan dan informasi mengenai banyak hal. Dalam menghadapi hal seperti itu, kita harus mampu melakukan verifikasi dan investigasi atas akurasi dan kebenarannya. Begitulah yang terjadi pada Sulaiman ketika ia mendapat informasi dari Hud-hud yang mengabarkan adanya kerajaan lain yang belum tersentuh dakwah dan mereka menyembah matahari. Maka Sulaiman menugaskan balik dengan memberikan surat ajakan agar masuk Islam dengan menyuruh Hudhud melontarkan surat itu yang sekaligus menguji akurasi dan kebenaran informasi Hudhud: Dia (Sulaiman) berkata, “Akan kami lihat, apa kamu benar atau termasuk yang berdusta (27). Pergilah dengan membawa suratku ini, lalu jatuhkan kepada mereka, kemudian berpalinglah dari mereka, lalu perhatikan apa yang mereka bicarakan (28).”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Pilar Kedelapan, kreatif dan inovatif&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Skill dasar lain yang harus dimiliki oleh orang yang menginginkan dirinya unggul adalah kemampuannya untuk kreatif dan tidak anti perubahan. Itulah yang dilakukan oleh Sulaiman ketika singgasana Balqis telah dipindahkan ke hadapan kerajaannya dengan cara memodifikasi bentuk kerajaannya. Dan Sulaiman berkata, “Ubahlah untuknya bentuk singgasananya; kita akan melihat apakah ia (Balqis) mengenalnya ataukah sudah tidak mengenalnya lagi.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Pilar Kesembilan, kemampuan diplomasi&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Sebagus apapun gagasan yang dimiliki seseorang tidak dapat dipahami audiens atau stakeholder jika tidak memiliki kemampuan komunikasi yang baik dan mempengaruhi, baik berupa komunikasi massa maupun diplomasi. Terlebih jika ia adalah seorang pemimpin, maka kemampuan diplomasi menjadi syarat mutlak yang harus dikuasai. Perhatikanlah dialog diplomatic yang dilakukan antar dua pemimpin Negara berikut ini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka ketika dia (Balqis) datang ditanyakanlah (kepadanya), “Serupa inikah singgahsanamu?”&lt;br /&gt;Agar ia tidak jatuh harga dirinya karena keterpukauannya pada kemampuan Sulaiman menduplikasi kerajaan serupa dengan mirip, Ia (Balqis) berkata, “seakan-akan itulah dia.” (42). Jawaban ini menunjukkan keraguan dan keheranan Balqis atas apa yang terjadi di hadapannya. Ia tidak percaya kalau singgahsananya yang baru ia tinggalkan sudah ada di lingkungan kerajaan Sulaiman. Jika ia mengatakan “Benar itu kerajaanku” berarti menunjukkan kekalahannya. Sebaliknya, jika ia menjawab “itu bukan singgahsanaku” dia telah berdusta, dan dia tidak kuasa memungkiri kemiripan singgasananya, hingga ia melanjutkan jawabannya dengan perkataan: “Kami telah diberikan pengetahuan sebelumnya dan kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada Allah).” (42)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;C.    Sikap Dasar&lt;br /&gt;Pilar Kesepuluh, disiplin dan ketegasan&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Pribadi unggul adalah orang yang memiliki disiplin. Ia memiliki jadwal-jadwal yang ditepatinya dalam waktu, amanah, dan berbagai aktivitas kesehariannya. Sebagaimana Sulaiman memberikan pelajaran berharga dalam sikap disiplin ini, ketika semua agendanya sudah terjadwal: Dan dia  memeriksa burung-burung, lalu berkata, “Mengapa aku tidak melihat Hudhud, apakah ia termasuk yang tidak hadir?” Di samping itu juga ia seorang yang tegas atas perlakuan yang indisipliner jika ada pelanggaran yang terjadi. “Pasti akan kuhukum ia dengan hukuman yang berat, atau kusembelih, kecuali jika dia datang padaku dengan alasan yang jelas.” Dalam bahasa manajemennya: akan aku beri punishment atau aku pecat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Pilar Kesebelas, loyalitas pada misi gerakan dakwah&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Sikap dasar keunggulan pribadi seorang aktivis dan da’i adalah ketika 24 jam kehidupannya dalam koridor menjalankan misi dakwah. Hal inilah yang terjadi dalam diri Hudhud, walau ia meninggalkan rapat koordinasi di istana Sulaiman, perjalanannya ke luar negeri adalah dalam upaya perluasan dakwah. Terbukti komitmennya ketika ia menginformasikan fakta-fakta yang ada dan menganulir hal-hal yang diagungkan itu dengan membesarkan hanya Allah saja yang Maha Agung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Pilar Keduabelas, mendahulukan musyawarah&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Seorang pribadi unggul adalah mereka yang terlibat dalam amal jama’i dan memutuskan persoalan-persoalannya dengan musyawarah. Segalanya dipertimbangkan atas dasar mencapai kebaikan bersama, tidak mengedepankan ego atau semata menampilkan eksistensi diri. Inilah yang dilakukan Ratu Saba’ Balqis, ia memusyawarahkan persoalan krusial yang menyangkut eksistensi negaranya dalam hubungan internasional akibat tindakan dakwah Sulaiman. Begitu juga Sulaiman tidak serta merta menyerang Negara yang tidak menerima ajakan dakwahnya, tapi memusyawarahkannya di lingkungan kerajaan secara cermat dan bijak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Pilar Ketigabelas, Rabbaniyah&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Dari seluruh sikap yang ditampilkan, hal yang paling mendasar bagi keunggulan pribadi seorang pemimpin adalah sikap Rabbaniyah-nya yang menonjol. Ia tidak pragmatis dan bukan tipe materialis sama sekali. Ia lebih mengedepankan sisi Rabbaniyah sebagai hiasan akhlak dan perilakunya. Itulah yang dikedepankan Sulaiman ketika ia diberi hadiah kekayaan material oleh Balqis, bahwa apa yang diberikan manusia tidak seberapa jika dibandingkan dengan karunia yang Allah berikan padanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;D.    Daya Dukung&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Pilar Keempatbelas, kecepatan dan teknologi yang canggih&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Dalam kancah global, pribadi unggul tidak cukup hanya memiliki kepribadian yang istimewa, ia perlu dilengkapi dengan daya dukung iptek yang tentunya akan berdampak positif bagi perkembangan dakwah. Sulaiman pun demikian, perpindahan singgahsana Balqis dari Yaman ke Palestina dalam sekejap mata (qabla an yartadda ilaika tharfuka—sebelum engkau mengedipkan mata) menunjukkan adanya daya dukung kecepatan dan teknologi yang canggih. Dalam sebuah riwayat, yang menawarkan bantuan dengan kecepatan supersonic itu adalah manusia juga, bukan Ifrit yang menawarkan perpindahan singgasana itu sebelum Sulaiman berdiri dari tempat duduk (qabla an taquma min maqamika). Itu artinya sebuah peradaban akan tercipta bukan didasarkan pada kekuatan mistic bantuan jin melainkan kekuatan ilmu pengetahuan dan teknologi serta persandaran diri pada Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Pilar Kelimabelas, staf ahli dan pembantu yang terlatih&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Daya dukung lain adalah adanya pembantu yang terlatih. Mereka yang mengemban amanah besar berhak mendapatkan bantuan yang proporsional. Kebesaran kerajaan Sulaiman dapat menggertak kerajaan lain hingga merasa inferior (wa hum shaghirun) adalah karena didukung dengan kekuatan pertahanan militer yang solid, kokoh, dan terlatih dalam sebuah Negara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah Sulaiman, Balqis datang tanpa dijemput. Ia terpesona oleh kebesaran dakwah dan kerajaan Rabbaniyyah-nya yang dibangun Sulaiman. Mengapa Sulaiman menjemput masa depan seperti itu? Tiada lain karena ia telah menyiapkan dirinya dengan berbagai unsur keunggulan dalam diri dan kompetensi organisasi kerajaannya yang teruji secara lintas peradaban.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Barakallahu laka wa baraka ‘alaika wa jama’a bainakuma fi khair&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, sebuah pernikahan adalah gerbang menuju masa depan. Bahtera yang digunakan semoga dapat melalui ombak badai dan sentuhan angin sejuk yang menerpa kapal peradaban dengan mempelajari pengalaman masa lalu serta bimbingan al-Qur’an dan as-Sunnah. (Rijalul Imam)&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8653220825386911259-3719673161078951641?l=mudacendekia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mudacendekia.blogspot.com/feeds/3719673161078951641/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8653220825386911259&amp;postID=3719673161078951641' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8653220825386911259/posts/default/3719673161078951641'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8653220825386911259/posts/default/3719673161078951641'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mudacendekia.blogspot.com/2007/09/tadabbur-cinta-para-nabi.html' title='Tadabbur Cinta Para Nabi'/><author><name>muda.cendekia</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05721851366735628642</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='21' src='http://2.bp.blogspot.com/_t7g-TRyk8Gs/SjXceZgl5CI/AAAAAAAAADo/ig0udnJhDeQ/S220/LOGO+MC3.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
